KISAH NYATA : EKSORSISME ANNELIESE MICHEL
(Sebuah kisah iman Katolik – Tidak disarankan bagi Non Katolik, tidak memahami iman Katolik dan mereka yg masih lemah imannya)
Banyak orang sudah pernah menonton film besutan Hollywood tahun 2005 yang berjudul Exorcism of Emily Rose.
Film tersebut menyajikan kisah mencekam tentang seorang mahasiswi bernama Emily Rose yang meninggal dunia akibat dehidrasi dan kelaparan setelah menjalani rangkaian ritual pengusiran setan yang gagal. Alur cerita film ini berfokus pada drama persidangan penuh ketegangan, di mana seorang pengacara agnostik bernama Erin Bruner harus membela Pastor Richard Moore yang didakwa atas kelalaian hukum yang menyebabkan kematian Emily. Persidangan ini menjadi arena perdebatan sengit yang membenturkan sudut pandang medis sains dengan pembuktian spiritualitas iman. Dan yg menjadikan film tersebut luarbiasa adalah penggambaran kerasukan Emily yg berhasil ditampilkan dengan sangat mengerikan dengan ritual eksorsisme yg sangat realistis.
Tetapi tahukah anda bahwa film itu dibuat berdasarkan sebuah kisah nyata?
Sebuah kisah kerasukan yg dialami oleh seorang gadis bernama Anneliese Michel yg mengalami kerasukan panjang selama kurang lebih 7- 8 tahun dan menjalani 67 kali ritual pengusiran iblis selama 10 bulan sebelum akhirnya meninggal dunia.
Tragis memang, tetapi saya melihat banyak hal yg dapat kita pelajari dari kisah ini, terutama bagi iman Katolik, untuk itu, pada kesempatan ini saya mencoba membawanya kedalam bentuk sebuah artikel dengan tujuan bisa mensharingkan kisah ini kepada sesama umat Katolik dan mendapatkan perjalanan iman yg bermanfaat didalamnya.
Mari kita ikuti kisahnya; Eksorsisme untuk Anneliese Michel.
PROLOG
Anneliese Michel adalah seorang gadis Katolik taat asal Bavaria, Jerman Barat, yang lahir pada tahun 1952. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sangat religius dan konservatif, di mana isu-isu mengenai dosa, setan, dan penebusan dosa menjadi bagian erat dari kehidupan sehari-harinya. Di masa remajanya, Anneliese dikenal sebagai sosok yang cerdas dan taat beribadah, hingga ia berhasil menempuh pendidikan tinggi untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang guru.
Awal mula petaka spiritualnya terjadi pada tahun 1968 di usia 16 tahun, saat ia mengalami kejang misterius di malam hari yang membuat tubuhnya kaku dan lumpuh sesaat. Berdasarkan pemeriksaan saraf, tim medis mendiagnosis Anneliese menderita Epilepsi Lobus Temporal (Temporal Lobe Epilepsy). Kerusakan pada area otak ini memicu halusinasi keagamaan akut, depresi berat, serta penglihatan wajah-wajah iblis (Fratzen) yang terus berbisik bahwa jiwanya telah dikutuk masuk neraka.
Meskipun sudah diberi obat-obatan antikejang dan antipsikotik kuat seperti Tegretol, kondisi Anneliese justru terus merosot tanpa ada perbaikan medis. Puncak perubahan perilakunya terjadi saat ia melakukan ziarah ke San Damiano, Italia, pada tahun 1973. Di sana, Anneliese mendadak bertindak agresif, menolak menyentuh salib, tidak bisa meminum air suci karena menganggap baunya busuk, dan mulai berbicara dengan suara berat yang asing.
Kegagalan obat dokter ditambah pengalaman aneh saat ziarah membuat keluarga dan pihak gereja menarik kesimpulan fatal bahwa kondisi Anneliese bukan penyakit medis, melainkan kerasukan iblis secara murni. Keyakinan spiritual inilah yang memicu penghentian total perawatan medis klinis, dan mengalihkan fokus penanganan Anneliese sepenuhnya ke jalur ritual eksorsisme yang berujung pada kematiannya.
BAGIAN 1: Sifat Suara Gaib & Awal Ritual Pengusiran Setan
Suara yang keluar dari dalam tubuh orang yang kerasukan adalah sesuatu yang tidak pernah ingin didengar oleh manusia biasa. Suara ini sendiri bersifat tidak manusiawi, serta dipenuhi oleh kemarahan, kebencian, dan keputusasaan. Suaranya terdengar serak di tenggorokan (guttural), pekat, dan tidak membumi (ethereal). Ini bukanlah jenis suara dari apa pun yang ingin Anda ingat, dan suara ini sangatlah menggelisahkan.
Dalam buku Hostage to the Devil: The Possession and Exorcism of Five Contemporary Americans karya Pastor Malachi Martin:
Suara Tersebut (The Voice) dideskripsikan sebagai sebuah kekacauan suara yang sangat mengganggu dan menyiksa secara manusiawi. Beberapa suku kata pertama tampak seperti kata-kata yang diucapkan secara lambat dan tebal—agak mirip dengan rekaman kaset yang diputar dengan kecepatan di bawah normal. Saat Anda baru saja bersusah payah untuk menangkap kata tersebut, lapisan ketakutan yang dingin telah mencengkeram Anda—Anda tahu suara ini terasa asing.
Namun, konsentrasi Anda langsung hancur dan buyar oleh rangkaian gema yang muncul seketika, dari suara-suara kecil dan tajam yang menggema di setiap suku kata; menjeritkannya, membisikannya, menertawakannya, mencemoohnya, mengerangnya, dan mengikutinya. Semuanya menghantam telinga Anda, sementara suara asing utama terus melaju tanpa terburu-buru ke suku kata berikutnya, yang kemudian coba Anda tangkap kembali, sembari menebak-nebak suku kata pertama yang telah hilang dari ingatan. Pada saat itu, suara-suara kecil yang menusuk telah menyusul suku kata kedua tersebut; dan suara utama telah berlanjut ke suku kata ketiga; dan begitu seterusnya.
Biasanya, akan sangat sulit jika bukan tidak mungkin bagi roh iblis yang merasuki untuk merapalkan kata-kata keagamaan, karena hal itu sangat menyakitkan bagi mereka akibat kebencian mendalam yang mereka miliki terhadap cinta dan rahmat Tuhan serta agama pada umumnya. Hal tersebut menentang tujuan keberadaan mereka, menentang seluruh eksistensi mereka.
Begitu juga hal yg terjadi dalam proses eksorsisme Anneliese Michel sebagai mana yang dituturkan oleh Pastor Arnold Renz (imam kepala yang memimpin jalannya ritual eksorsisme) dan Pastor Ernst Alt (imam pendamping) dimana sebagian besar sesi pengusiran setan tersebut direkam ke dalam kaset audio (dan menjadi dasar penulisan percakapan dalam artikel ini).
Selama 67 sesi ritual eksorsisme maut yang berlangsung selama sekitar 10 bulan itu, ada beberapa orang dekat yang secara konsisten mendampingi, berada di lokasi untuk memberikan dukungan doa, membantu menahan fisik Anneliese saat mengamuk, serta menjadi saksi mata langsung atas peristiwa tersebut.
Mereka adalah; Kedua orang tua Anneliese, Josef Michel dan istrinya Anna Michel, Peter Busse (Pacar Anneliese), adik-adik Anneliese: Roswitha, Barbara, dan Christina serta Pastor Adolf Rodewyk sebagai penasihat ahli (tidak selalu berada di lokasi).
Pastor Rodewyk adalah yg datang awal untuk memeriksa kondisi Anneliese, melakukan wawancara, dan menulis laporan rekomendasi formal kepada Uskup Josef Stangl yang menyatakan bahwa Anneliese benar-benar kerasukan sehingga ritual agung harus segera diizinkan.
Dalam ritual pengusiran yg panjang dan menyiksa semua orang itu, ada sebuah cerita yg cukup mendalam untuk diingat. Saat itu Pastor Renz mengajak mereka semua yg hadir di rumah saat itu untuk berdoa bersama dengan Sang Bunda Allah.
Setelah doa mulai berkumandang, pastor Renz dengan lantang memerintahkan mereka (para iblis) untuk menyapanya, diiringi semua yang hadir secara serentak mulai menyanyikan lagu pujian "Magnificent" (Kidung Maria).
Para pastor pun mulai bernyanyi, dan baru saja berjalan tidak lebih dari 2 baris lagu, iblis-iblis tersebut mulai menjerit dan memekik kesakitan serta ketakutan, dalam suara yang mengerikan dan tidak manusiawi itu. "Dia datang! Dia datang!" teriak mereka.
Suara Gaib: Dia datang! Dia datang!
Para Pastor dan mereka yg hadir: Jiwaku memuliakan Tuhan... (berdoa sambil bernyanyi)
Suara Gaib: Dia datang!
Para pastor mengklaim bahwa bulu kuduk mereka berdiri tegak, dan mereka belum pernah menghadapi hal seperti ini sebelumnya. Mereka belum pernah mendengar tingkat keputusasaan dan siksaan seperti ini terpancar dari iblis-iblis di dalam tubuh Anneliese. Mereka tampak berada dalam kekacauan dan siksaan yang nyata.
Seketika itu juga, para pastor langsung berlutut untuk menyambut kedatangan spiritual Bunda Maria.
Melihat kondisi mereka (iblis yang merasuk) yang melemah, Pastor Renz bertanya kepada para iblis, "Siapa di antara kalian yang akan keluar duluan?"
Setelah jeda singkat, yang pertama menjawab adalah mantan imam yang dipecat dan diekskomunikasi oleh otoritas gereja pada abad ke-16, Fleischmann. Dia dipaksa menyebutkan siapa dirinya dan mengapa dia dikutuk dalam penderitaan abadi di Neraka.
Momen Pengakuan Nama-Nama Iblis (diambil dari transkrip beberapa rekaman)
Pastor Renz: "Dalam nama Yesus, katakan siapa namamu dan pergilah!"
Suara Iblis: (Berteriak dan mengerang keras) "Kami adalah mereka yang bersemayam di dalam! Aku adalah yang pernah bersemayam di dalam Cain! Aku yang pernah bersemayam di dalam Nero! Aku pernah bersemayam di dalam Judas! Dan aku bersama Legion! Aku adalah Belial! Dan aku... adalah Lucifer, sang iblis dalam wujud daging!"
Salah satu entitas kemudian mengklaim sebagai Fleischmann—seorang imam Frankonia pada abad ke-16—dan Adolf Hitler yang berbicara dengan dialek Bavaria.
BAGIAN 2: Transkrip Dialog Eksorsisme - Roh Fleischmann
Suara Gaib: Aku dikutuk, karena aku... karena aku... aku telah menjalankan tugas imamatku dengan sangat buruk.
Para Pastor: Siapa kamu? Yudas?
Suara Gaib: Bukan.
Pastor: Fleischmann?
Suara Gaib: Ya. Aku harus keluar sekarang.
Para Pastor: Ke Neraka?
Suara Gaib: Ya.
Para Pastor: Apakah kamu tahu apa yang harus kamu katakan?
Suara Gaib: Ya.
Para Pastor: ...Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Allah yang Esa, Tritunggal Maha Kudus, Roh yang Maha Kudus. Berikan kami tanda! ….Aku harus mendapatkan tanda bahwa kamu keluar! ….. Dalam nama Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Berikan kami tanda!
Suara Gaib: Sa... Sa... Sa... Salam. <gagap parah> Maria... <jeda> ...Penuh rahmat.
Para Pastor: Itu adalah sebuah tanda, yang satu ini telah keluar. Dia berkata: "Salam Maria, penuh rahmat." Itu adalah tanda yang telah ditentukan. Jadi Fleischmann sudah pergi. Sekarang berikutnya. Siapa berikutnya? Berikutnya adalah Kain, atau Nero? Berikutnya Kain. Dalam nama Allah yang Esa, Tritunggal Maha Kudus, Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Terdengar helaan napas yang berat dan panjang, disusul keheningan setelahnya.
Saat proses ini terus berlanjut, pada bagian akhir akhirnya menyisakan Lucifer, dan dialah yang terakhir tersisa. Ketika dia ditanya mengapa dia berada di sana, jawabannya adalah "Karena aku ingin berkuasa. Menjadi satu-satunya makhluk di Bumi. Aku tidak ingin melayani siapa pun." Pada akhirnya, dia berbicara terbata-bata dan gagap saat merapalkan doa "Salam Maria" seperti roh-roh sebelum dia, dan dia pun meninggalkan Anneliese.
BAGIAN 3: Transkrip Dialog Eksorsisme - Roh Lucifer
Suara Gaib: Aku dikutuk. Karena aku tidak mau... karena aku tidak mau... melayani Tuhan. Aku ingin berkuasa... meskipun aku adalah satu-satunya makhluk.
Para Pastor: Kamu ingin berkuasa meskipun kamu adalah satu-satunya makhluk?
Suara Gaib: Aku tidak akan pergi.
Para Pastor: Dalam nama Allah yang Esa, Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Aku memerintahkanmu untuk pergi dan menyembah Perawan Tersuci. Dalam nama Perawan Tersuci dan dalam nama Yesus... Aku memerintahkanmu untuk pergi! Dalam nama Allah yang Esa, Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh Kudus, aku memerintahkanmu untuk menyembah Perawan Tersuci.
Suara Gaib: Tidak.
Para Pastor (berseru): Kamu tidak mau tunduk pada Surga, tetapi kamu harus tunduk. Kepada Allah yang Esa, Allah Tritunggal, Perawan Tersuci, Para Malaikat Suci, dan kepada Malaikat Agung Mikael. Mundurlah... Dalam nama Allah yang Esa, Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Suara Gaib: Tidak... tidak... tidak... tidak.
Para Pastor (berseru – membentak) : Aku memerintahkanmu untuk pergi! Pergi dan jangan pernah kembali! Dan sembahlah Perawan Tersuci.
Suara Gaib : Sa... sa... sa... <gagap> Salam Maria... <jeda> ...penuh rahmat.
Para Pastor: Allah Yang Agung, kami memuji-Mu. Mari kita akhiri dengan doa yang sesuai. Dan kemudian kita akan menyanyikan "Lagu Agung Pujian".
Para Pastor (bernyanyi): Oh Allah Yang Agung...
Anneliese (suara normal): Oh, ya...
Para Pastor: Apa yg kamu rasakan, apakah kamu merasa berbahagia?
Anneliese: Ya, aku merasa sepenuhnya berbeda.
Para Pastor: Kami memohon kepada-Mu, kami memohon kepada-Mu, Allah Yang Mahakuasa agar roh-roh jahat tidak lagi memiliki kuasa atas tubuh Anneliese.
Anneliese: Aku sepenuhnya bebas sekarang... sepenuhnya bebas. Ini sangat luar biasa... sepenuhnya bebas.
Setelah eksorsisme yang tampaknya berhasil sebagaimana ditranskripsikan di atas, Anneliese menyatakan—dan dapat didengar dalam rekaman—ia berkata "Aku sepenuhnya bebas sekarang... sepenuhnya bebas. Ini sangat luar biasa... sepenuhnya bebas."
Pastor Renz sedang mencari doa penutup untuk memberikan rasa ketenangan dan berterima kasih kepada Tuhan.
Tetapi kembali sebuah fakta mengejutkan terungkap.
Setelah hanya sekitar sepuluh menit berdoa, diketahui bahwa beberapa iblis ternyata masih ada di dalam tubuh Anneliese. Mereka menjerit, "Kami ingin pergi, tetapi kami tidak diizinkan!"
Peristiwa inilah yang membingungkan para pastor karena mereka tidak bisa dan tidak akan pernah mengerti. Mereka semua mengakui bahwa ini memang sesuatu yang berbeda, dan sangat tidak biasa. Mereka tidak yakin apakah mereka melakukan kesalahan atau di mana letak kesalahan itu, serta apa kesalahan tersebut.
Kondisi yg membuat banyak orang memiliki pandangan berbeda, dimana sebagian dari banyak orang melihat hal ini sebagai kekalahan di dunia fisik, beberapa orang lainnya menganggapnya sebagai kemenangan akhir dalam perang spiritual yang sedang dihadapi Anneliese.
Bertahun-tahun kemudian, Pastor Alt meyakini bahwa iblis-iblis yang tersisa yang ingin pergi tetapi tidak bisa, terjadi mungkin karena Anneliese telah menerima tawaran Bunda Maria secara spiritual dan beberapa iblis terikat pada Anneliese sebagai silih akan hal itu.
(Insert : Kondisi ini bermula ketika Anneliese Michel mengaku mendapatkan penglihatan gaib (vision) dari Bunda Maria di sebuah taman. Dalam penglihatan tersebut, Bunda Maria memberikan sebuah tawaran atau pilihan spiritual yang sangat berat kepada Anneliese:
* Pilihan A: Dia dibebaskan saat itu juga dari siksaan iblis dan hidup normal.
* Pilihan B: Dia bersedia tetap dirasuki dan menanggung penderitaan luar biasa tersebut agar dunia melihat bahwa iblis itu nyata, sekaligus menjadi martir demi menyelamatkan jiwa orang-orang modern yang mulai kehilangan iman.
Anneliese memilih Pilihan B. Ia secara sadar mengucapkan kata "YA" untuk menerima penderitaan tersebut dan menjalaninya.
Namun pada akhirnya, tidak ada yang tahu pasti mengapa hal ini terjadi. Tidak ada jawaban yang pasti.)
BAGIAN 4: Percakapan Akhir, Kondisi Fisik, & Catatan.
Anneliese: Pastor, aku tidak pernah menyangka ini akan menjadi begitu menakutkan. Aku ingin menderita demi orang lain agar mereka tidak berakhir di Neraka. Tetapi aku tidak akan pernah menduga bahwa ini akan menjadi begitu menakutkan, begitu mengerikan. Terkadang, Anda berpikir, 'menderita adalah hal yang mudah!', tetapi itu menjadi sangat sulit... Anda bahkan tidak ingin melangkah satu langkah pun.
Pastor Renz: Ya, memang mudah berbicara tentang penderitaan ketika hal itu tidak menyangkut diri kita.
Anneliese: Ya, itu benar. Pastor Arnold, mustahil membayangkan bagaimana mereka bisa memaksa seorang manusia. Anda tidak memiliki kendali atas diri Anda sendiri lagi.
Pastor Renz: Kamu telah berkontribusi sedikit di dalamnya karena kamu siap untuk menerimanya.
Anneliese: Pada titik itu, hal tersebut tidak ada hubungannya lagi.
Pastor Renz: Kamu tahu, itu terjadi karena sebelum itu, kamu mengatakan YA.
Pada saat kematiannya, Anneliese memiliki BANYAK luka, memar, luka robek, dan lecet di seluruh kepala dan wajahnya, serta gigi yang patah akibat momen-momen di mana ia mencoba menggigit batu dan memakannya.
Sebelum kematiannya, para pastor sempat meminta seorang dokter untuk memberinya obat-obatan guna meringankan penderitaannya. Dokter tersebut menolak, mengklaim bahwa ia tidak tahu bagaimana reaksi orang yang kerasukan terhadap obat. "Tidak ada suntikan untuk melawan iblis."
Selama pemeriksaan oleh dokter, mereka menyadari pada tubuh Anneliese muncul apa yang mereka deskripsikan sebagai "tanda stigmata" pada kaki Anneliese. Ibunya, Anne, juga ingat melihat hal ini, di mana tanda tersebut pertama kali muncul di kakinya dan kemudian beberapa hari kemudian, muncul di tangannya juga.
Anne mengklaim bahwa luka di kaki Anneliese parah, sementara luka di tangan Anneliese juga sangat serius tetapi tidak separah yang di kaki.
Pada masa ini, Anneliese tersiksa secara iblis, secara harfiah 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Tidak ada penangguhan, tidak ada bentuk istirahat. Orang-orang yang melihatnya mengklaim bahwa Anneliese tampak sangat kurus kering (emaciated) dan rapuh.
Terungkap bahwa terkadang, dia akan makan pisang, atau berteriak agar seseorang memberinya sesuatu untuk dimakan.
Para pastor menyaksikan Anneliese melahap makanan terkadang secepat yang dia bisa dan sebanyak yang dia bisa, dan mereka bahkan ingat satu kesempatan di mana dia meminum 2 liter jus. Mereka sebenarnya percaya bahwa momen makan banyak inilah yang membuatnya tetap hidup dan mengklaim tidak pernah berpikir bahwa dia akan meninggal karena kelaparan. Mereka juga mengklaim bahwa dia telah seperti ini selama lebih dari setahun, dan sebelumnya sempat kembali "normal".
Anneliese pernah mengatakan bahwa "Sesuatu akan berubah di bulan Juli", yang waktunya tidak terlalu jauh dari saat dia membuat klaim tersebut. Pada tanggal 1 Juli, Anneliese meninggal dalam tidurnya.
Para pastor tidak ada di sana pada saat itu, dan tidak percaya bahwa dia sebenarnya telah tiada.
Mereka meminta Dokter Roth pergi ke rumah tersebut dan memastikan bahwa hal itu memang benar terjadi.
Pihak keluarga memanggil dokter keluarga mereka, dan ketika dia tiba, dia menyatakan Anneliese meninggal. Dia kemudian, seperti yang diwajibkan oleh hukum, memberi tahu kantor kejaksaan bahwa dia tidak bisa mengatakan dengan jujur bahwa kematiannya adalah akibat dari penyebab alami.
Persidangan dimulai pada bulan April 1978 dengan terdakwa kedua orangtua Anneliese dan kedua Pastor.
Inti konflik dari persidangan ini adalah pertentangan sudut pandang medis dan agama. Pihak dokter mendiagnosis bahwa Anneliese sebenarnya menderita penyakit medis seperti epilepsi dan skizofrenia. Namun, pihak keluarga dan gereja meyakini bahwa kondisi psikologis dan fisik yang memburuk tersebut disebabkan oleh kerasukan enam roh jahat atau iblis.
Pada akhirnya mereka dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 6 bulan penjara yang kemudian ditangguhkan menjadi 3 tahun masa percobaan/kerja sosial.
Demikianlah kisah ini diceritakan kembali, meskipun kejadian ini walau masih memiliki beberapa bagian misteri yg sulit untuk dijelaskan hingga saat ini, tetapi mungkin kita juga sedikit banyak dapat memahami beberapa hal dari peristiwa Anneliese (walaupun mungkin artikel ini tidak memuatnya secara lengkap) ini, antara lain;
· Iblis bekerja dalam senyap, karena semakin kita tidak menyadari kehadirannya maka ada 2 keuntungan bagi iblis, pertama, kita menjadi tidak sadar jika kita melakukan sesuatu yg disukai atau didalangi oleh iblis. Kedua, dengan kita tidak menyadari keberadaan iblis maka kita juga menjadi tidak menyadari keberadaan dan peran Allah dalam kehidupan kita.
· Iblis bekerja dalam senyap, karena semakin kita tidak menyadari kehadirannya maka ada 2 keuntungan bagi iblis, pertama, kita menjadi tidak sadar jika kita melakukan sesuatu yg disukai atau didalangi oleh iblis. Kedua, dengan kita tidak menyadari keberadaan iblis maka kita juga menjadi tidak menyadari keberadaan dan peran Allah dalam kehidupan kita.
· Iblis sangat takut pada kehadiran dan keagungan Perawan Maria, bahkan mengucapkan Doa Salam Maria merupakan siksaan yg sangat berat bagi iblis. Hal ini terjadi karena sejatinya Perawan Maria adalah ciptaan Allah seperti manusia lainnya, tetapi ketaatannya dalam menerima, menjalankan dan mendukung misi penebusan Tuhan telah membuat Maria menempati posisi yg sangat mulia dan ditinggikan oleh Allah untuk dihormati di Bumi dan oleh para Malaikat di Surga.
· Iblis sangat tersakiti jika berinteraksi dengan Doa, Air Suci dan Benda-Benda Suci yang mewakili kehadiran kuasa Allah, sebagai orang Katolik ini merupakan penegasan bahwa kasih dan kekuatan Allah dapat bekerja melalui perantaraan. Energi Ketuhanan tidaklah mati melainkan kekal dan dapat bertransformasi melalui apapun atau siapapun yang Allah kehendaki, dengan iman kita sebagai penguatnya, semakin yakin kita atas kehadiran Allah maka akan semakin besar pula energi Ketuhanan yg bekerja pada diri dan kehidupan kita.
· Tuhan dapat memakai siapa saja untuk menyatakan Kekuasaannya, bahkan dapat melalui orang yang tidak kita sangka-sangka atau orang yang paling hina sekalipun, dan kita dapat menjadi silih untuk meringankan penderitaan dan beban orang lain, sekecil apapun yang kita lakukan pada saudara kita yang paling hina maka hal itu kita lakukan untuk Tuhan.
· Mengikuti Tuhan bukan berarti akan hidup enak dan menyenangkan, bahkan sebaliknya, berjalan bersama Tuhan dapat membuat kita sangat menderita saat di dunia (seperti Anneliese Michel) tetapi kita tidak perlu takut karena kemuliaan dan kehangatan kasih Tuhan akan selalu menunggu diujung jalan untuk menyambut kedatangan mereka yang taat sampai akhir.
Sekali lagi kita sadari bahwa kisah Anneliese Michel ini membawa akhir yg multi dimensi, untuk itu marilah kita renungkan dan menetapkan apa yang ingin kita percayai dan kemana iman kita tujukan, dan apapun hasilnya itu sepenuhnya merupakan pilihan yang terbaik bagi diri kita sendiri, tidak ada keharusan untuk mempercayai atau menolaknya.
Sebagai penutup mari kita baca bersama surat Anneliese kepada Pastor Alt diujung akhir hayatnya;
"Pastor Alt yang terhormat,
Saya harus menulis surat ini kepada Anda untuk menceritakan apa yang terjadi kemarin. Saya kembali mendapatkan penglihatan tentang Perawan Maria.
Beliau datang kepada saya dan berdiri di depan saya. Beliau tidak tersenyum, wajahnya tampak sangat sedih. Beliau memandang saya dan memberikan saya sebuah pilihan yang sangat berat.
Beliau bertanya apakah saya bersedia membiarkan roh-roh ini tetap berada di dalam tubuh saya, atau apakah saya ingin dibebaskan sekarang juga. Jika saya memilih dibebaskan, penderitaan saya akan berakhir dan saya bisa hidup normal kembali seperti gadis-gadis lainnya.
Tetapi jika saya memilih untuk tetap membiarkan mereka di dalam, saya harus menanggung penderitaan yang jauh lebih kejam dan mengerikan. Namun, penderitaan itu tidak akan sia-sia. Penderitaan tersebut akan menjadi silih (penebusan dosa) bagi jiwa-jiwa manusia modern yang telah kehilangan iman mereka, serta menjadi bukti nyata bagi dunia bahwa iblis itu benar-benar ada.
Saya melihat ke arah Beliau, dan meskipun saya merasa sangat ketakutan setengah mati, saya menjawab: 'YA'. Saya bersedia menerima penderitaan itu.
Saya ingin menderita demi orang lain, Pastor. Saya ingin menanggung ini semua agar mereka tidak perlu berakhir di Neraka. Namun, saya tidak pernah membayangkan bahwa penderitaan ini akan terasa sungguh sangat kejam dan menyiksa.
Mohon terus doakan saya, Pastor, karena saya merasa tidak lagi memiliki kekuatan atau kendali atas diri saya sendiri."
------------------------------------
Semoga Anneliese Michel beristirahat dalam damai bersama Tuhasn Yesus dan Bunda Maria di Surga. Amin.
NL 07102026
Source : https://www.facebook.com
Reshar by MT
Salam Faith, Fraternity and Compassion
GBU All.
NEXT TOPICS :
- Apa itu kitab hukum KANONIK?
- Beban berat menyelamatkan hidup, lok kok bisa?
- Mujizat EKARISTI
- Pertobatan EKOLOGIS apa itu?
- Peranan Maria bagi Ke Kristenan khusus nya Gereja Katolik
- " Teologi Katolik Part 1-17 "
